Ada sebuah iklan bumbu masak. Si Ibu sedang memasak di dapur. Tiga orang anaknya datang menghampiri.
Ibu : Makan yuuk…
Anak 1 : Makan apa?
Ibu : (Mengacungkan seikat bayam)
Anak : (menggeleng sembari menutup mulut, telinga, dan mata)
Ada sekitar 25% anak mengalami kesulitan makan, jumlah akan meningkat sekitar 40-70% pada anak yang lahir prematur atau dengan penyakit kronik. Penelitian yang dilakukan di Jakarta menyebutkan bahwa anak prasekolah (usia 4-6 tahun), didapatkan prevalensi kesulitan makan sebesar 33,6%. Sebagian besar (79,2%) telah berlangsung lebih dari 3 bulan. Kesulitan makan karena sering dan berlangsung lama sering dianggap biasa. Sehingga akhirnya timbul komplikasi dan gangguan tumbuh kembang lainnya pada anak. Salah satu keterlambatan penanganan masalah tersebut adalah pemberian vitamin tanpa mencari penyebabnya sehingga kesulitan makan tersebut menjadi berkepanjangan (Judarwanto 2007).
DEFINISI
Anak yang seperti apa sih yang bisa dikategorikan mengalami kesulitan makan?
Ternyata, kesulitan makan bukanlah diagnosis atau penyakit, tetapi merupakan gejala atau tanda adanya penyimpangan, kelainan dan penyakit yang sedang terjadi pada tubuh anak. Pengertian kesulitan makan adalah jika anak tidak mau atau menolak untuk makan, atau mengalami kesulitan mengkonsumsi makanan dan atau minuman dengan jenis dan jumlah sesuai usia secara fisiologis (alamiah dan wajar), yaitu mulai dari membuka mulutnya tanpa paksaan, mengunyah, menelan hingga sampai terserap di percernaan secara baik tanpa paksaan dan tanpa pemberian vitamin dan obat tertentu.
Gejala kesulitan makan pada anak di anataranya :
(1) kesulitan mengunyah, menghisap, menelan makanan atau hanya bisa makan makanan lunak atau cair,
(2) memuntahkan atau menyembur-nyemburkan makanan yang sudah masuk ke mulut,
(3) makan berlama-lama dan memainkan makanan,
(4) sama sekali tidak mau memasukkan makanan ke dalam mulut atau menutup rapat mulut,
(5) memuntahkan atau menumpahkan makanan, menepis suapan dari orangtua,
(6) tidak menyukai banyak variasi makanan, dan
(7) kebiasaan makan yang aneh dan ganjil (Judarwanto 2007).
PENYEBAB
Penyebab kesulitan makan pada anak sangat banyak, baik secara fisik misal kelainan organ bawaan dan infeksi bawaan, maupun secara psikis. Namun secara umum penyebab kesulitan makan pada anak dibedakan ke dalam tiga faktor, yakni hilang nafsu makan, gangguan proses makan di mulut, dan pengaruh psikologis. Penyebab paling sering terjadi adalah hilangnya nafsu makan. Hilangnya nafsu makan ini sering diakibatkan oleh gangguan fungsi saluran cerna.
PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN
Beberapa langkah yang dapat dilakukan pada penatalaksanaan kesulitan makan pada anak adalah :
(1) cari penyebab kesulitan makan pada anak,
(2) identifikasi adakah komplikasi yang terjadi,
(3) pengobatan terhadap penyebab,
(4) bila penyebabnya gangguan saluran cerna (seperti alergi, intoleransi atau kolik), hindari makanan tertentu yang menjadi penyebab gangguan.
Penanganan dalam segi neuromotorik dapat melalui pencapaian tingkat kesadaran yang optimal dengan stimulasi sistem multisensoris, stimulasi kontrol gerak oral dan refleks menelan, teknik khusus untuk posisi yang baik. Penggunaan sikat gigi listrik dan minum dengan sedotan kadang membantu memperbaiki masalah ini. Aktivitas meniup balon atau harmonika dan senam mulut dengan gerakan tertetntu juga sering dianjurkan untuk gangguan ini.
Pemberian suplemen atau obat tertentu sering dilakukan untuk mencegah kesulitan makan pada anak. Tindakan ini bukanlah cara terbaik untuk menyelesaikan masalah bila tidak disertai dengan mencari penyebab kesulitan makan tersebut. Kadangkala pemberian vitamin dan obat-obatan malah akan menutupi penyebab sebenarnya dari gangguan kesulitan makan pada anak.
DIET MAKANAN
Selain mengatasi kesulitan makan sesuai penyebab, pemberian makan yang cukup gizi dan sesuai anak sangat diperlukan. Hal ini dikarenakan anak dengan gangguan kesulitan makan memiliki perilaku dan kebiasaan makan yang berbeda dari anak lainnya.
Diet makanan yang dapat dilakukan adalah dengan memvariasikan menu makan sehari-hari baik dari segi jenis, rasa, maupun tampilan makanan. Apabila kesulitan makan ini disebabkan oleh alergi terhadap jenis makanan tertentu ada baiknya untuk menghindari jenis makanan tersebut. Selain dnegan memvariasikan makanan, memvariasikan cara makan pun sangat membantu. Sesekali bawalah anak makan di luar, sambil bermain di taman, biarkan anak berlari dan bermain sesuka hatinya asalkan proses makan tetap berjalan.
Berikut adalah salah satu contoh menu makan untuk anak balita :
Makan pagi : Nasi, tumis wortel (wortel dibentuk bunga), telu ceplok (dengan hiasan mata, hidung, dan mulut)
Selingan 1 : Susu/jus buah, bola-bola cokelat
Makan siang : Nasi, sayur sop, ayam goreng, buah
Selingan 2 : Puding buah
Makan malam : Nasi, sayur sop, telur rebus, susu
PUSTAKA
Judarwanto. 2007. Kesulitan makan pada anak. http/dranak.blogspot.com/2007/ 03/kesulitan-makan-pada-anak.html.